Memfungsikan Masjid Sebagai Sarana Pemberdayaan Umat


Ditulis Oleh :Muhammad Nahar, Pada Tanggal : 29 - 08 - 2012 
Mungkin salah satu penyebab sepinya masjid-masjid kita adalah karena masjid belum berfungsi sebagai pusat komunitas dari orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Masjid hanya dianggap sebagai tempat menunaikan ibadah ritual semata. Terkadang hanya sesekali diadakan pengajian dan para pesertanya pun terbatas sehingga terkesan ekslusif. Selebihnya, masjid seperti bangunan kosong yang tidak menampakkan dinamika kehidupan.

Para penjaganya yang tampak melakukan tugas-tugas rutin mereka seperti; membersihkan ruang ibadah, mengecek sound system dan sebagainya. Bahkan diantara mereka ada juga yang sempat untuk bersantai-santai tanpa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi waktu luangnya.


 Rasulullah SAW memfungsikan masjid bukan sekedar tempat ibadah namun juga merupakan sebagai tempat umat mengadukan masalah-masalah yang mereka hadapi. Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW seringkali menanyakan kepada para jamaah, siapakah yang saat ini masih memiliki hutang, siapakah yang masih memiliki keluarga yang sakit, siapakah yang hari ini tidak memiliki cukup makanan dan sebagainya.

Jika ada yang mengadukan masalahnya, Rasulullah pun kembali menanyakan adakah diantara yang hadir di masjid ini yang bisa membantu saudaranya yang membutuhkan tersebut. Setelah itu biasanya kaum muslimin berlomba-lomba memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya sehingga masalah yang ada bisa diselesaikan tanpa harus menunggu menjadi lebih parah. Saat itu, masjid benar-benar hidup dan mampu mempengaruhi denyut nadi kehidupan umat Islam dengan energy yang positif.

Beliau juga pernah mengatakan "Barangsiapa yang (bangun) pagi-pagi sementara dia tidak memikirkan (mempedulikan) urusan kaum Muslim, maka ia tidak termasuk ke dalam golongan mereka." (HR. Hakim). Urusan kaum muslimin di sini tentu bukan saja yang berada jauh dari kita seperti di Palestina, Rohingya, Suriah dan sebagainya. Namun, bisa juga mereka yang mungkin berada hanya beberapa ratus meter dari rumah kita.

Orang-orang yang tinggal di gerobak-gerobak yang lebih layak untuk barang, di emperan toko, taman kota dan lain sebagainya. Sementara, tak jauh dari tempat mereka tinggal banyak rumah-rumah megah dan  masjid-masjid yang berdiri kokoh. Namun sungguh disayangkan, masjid-masjid itu hanya seperti menara gading yang tidak mampu memberi manfaat maksimal bagi lingkungan sekitarnya. Masjid hanya menampakkan kepedulian sosialnya pada hari-hari tertentu seperti acara santunan anak yatim di bulan Muharram, pembagian zakat dan lain sebagainya.

 Masjid tidak boleh menjadi menara gading yang beku dan  membatu seperti monumen atau patung – patung di museum. Masih banyak umat Islam membutuhkan bimbingan dalam hal membaca Al Quran, mempelajari bahasa Arab, hukum fiqih dan syariat untuk kehidupan sehari-hari. Para pengurus masjid bisa membuat beragam pelatihan yang bisa diberikan secara gratis dengan biaya yang terjangkau. Akan lebih baik lagi jika mereka bisa membangun semacam database dari para jamaahnya dalam bidang ekonomi, sehingga jika diperlukan mereka bisa menjadi sarana untuk menyalurkan bantuan dari dan untuk sesama jamaah.

Dalam memberikan bantuan, hendaknya pengurus masjid juga memberdayakan jamaahnya yang kurang mampu agar naik taraf hidupnya, tidak terus menerus diberi dan disuapi oleh bantuan dari sesama jamaah. Lebih baik lagi jika seluruh jamaah bisa bersama-sama membangun lingkungan dekat masjid tersebut, baik fisik maupun sosial, Terlepas dari perbedaan jamaah atau organisasi yang menjadi afiliasi masing-masing individu. Jangan sampai di dekat masjid yang besar dan mewah terdapat orang-orang miskin yang kelaparan, berpakaian kumal dan lusuh yang tidak mendapat manfaat apapun dari keberadaan masjid tersebut. Apalah artinya sholat lima waktu dan ibadah-ibadah yang setiap hari ditegakkan di masjid-masjid,  jika kesalehan yang dihasilkan tidak teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Alangkah indahnya jika umat Islam, jamaah sebuah masjid di suatu daerah bisa mengesampingkan sementara perbedaan organisasi dan jamaah mereka masing-masing untuk memberikan bantuan pada saudara-saudaranya yang memerlukan. Sehingga, masjid bisa menjadi ladang amal, ladang ilmu dan ladang rezeki bagi para jamaahnya. Para jamaah pun seakan menemukan oase spiritual dan penyegar emosi mereka karena kehidupan materialistik sehari-hari yang menguras energi dan meletihkan jiwa. Semoga ...!  (Muhammad Nahar/Wasathon.com)

No comments:

Post a Comment